Notre Dame Paris yang Agung

Prancis adalah sebuah negara yang bernuansa penuh seni dan kebudayaan. Dalam kebudayaan Prancis, kesusasteraan dan film mereka senantiasa memancarkan karakter dan kedalaman makna yang anggun dan elegan, lebih-lebih keelokan bangunan dan panorama serta atmosfernya membuat relaks dan bahagia, tak sia-sia menyandang gelar salah satu pusat kebudayaan Eropa bahkan dunia.

Dari kebudayaan Prancis, yang membuat saya terharu ialah kisah Sungai Seine dan keagungan Notre Dame de Paris.
Sungai Seine adalah sungai besar di wilayah utara Prancis, dengan panjang total 780 km. Ia merupakan salah satu sungai besar yang paling memiliki makna sejarah. Hulu Sungai Seine terletak 275 km di sebelah tenggara Paris. Di wilayah perbukitan batu kapur dengan ketinggian 470 meter dpl (di atas permukaan laut), pada sebuah sungai gunung di dalam jurang nan sempit, menelusuri kali tersebut hingga ke atas sampailah kita pada sebuah gua.
Lubang gua tidak tinggi, buatan manusia, di depan pintu itu tak terdapat pagar. Di dalam gua tersebut ada sebuah patung dewi, ia berbusana sederhana berwarna putih, setengah berbaring setengah rebah, tangannya membawa botol air, senyum terkulum di sudut bibirnya, wajahnya tentram menyejukkan dan gayanya elok. Kali mengalir perlahan dari balik punggung dewi tersebut. Mudah ditebak, Sungai Seine berhulu air sumber.
Menurut legenda penduduk Galia setempat, dewi tersebut bernama Seine, seorang dewi penurun air, maka Sungai Seine disebut sesuai dengan namanya. Ahli purbakala berdasarkan figur kayu yang digali dari daerah tersebut memastikan, Dewi Seine setidaknya pada abad ke-5 SM sudah eksis di dunia manusia.
Jembatan yang membentang di atas Sungai Seine, konon berjumlah 36 buah, bentuk setiap jembatan memiliki ciri khas, diantaranya terhitung jembatan Alexander III yang paling megah dan berkilau keemasan. Jembatan tersebut memiliki struktur baja lengkung yang unik, menghubungkan jalan raya Champs Elysees dan Les Invalides Plaza. Jembatan tersebut dibangun untuk memperingati persekutuan antara Rusia dan Prancis, sekitar tahun 1900-an.
alt
Kedua negara Rusia dan Prancis masih berupa musuh bebuyutan pada 100 tahun sebelumnya. Napoleon pernah mengepung Rusia sehingga membumihanguskan Moskow. 100 tahun kemudian kedua negara itu melepaskan rasa permusuhannya, bahkan dengan penuh arti menghubungkan jembatan tersebut langsung ke makam Napoleon. Pada empat pangkal pilar di kedua ujung jembatan terdapat patung dengan sepuhan emas, dipikul oleh cupid kecil bersayap, bentuk dan warnanya yang indah terkesan menyolok terlihat dari Paris.
Di kedua tepian Sungai Seine pada ditanami pohon Payung China, dilihat dari kapal, terlihat hijau meraya. Di belakang pepohonan, merupakan kompleks bangunan yang megah. Istana besar maupun kecil di tepi utara sungai, wilayah perguruan tinggi di tepi selatan sungai, Menara Eiffel di sebelah barat sungai, juga Notre Dame de Paris yang terletak di atas pulau semenanjung timur sungai dan lain sebagainya, kesemua bentuk bangunan memiliki karakter dan memancarkan aura yang indah.
Berdiri di tepi Sungai Seine, menerawang Notre Dame yang berdiri menjulang, di sekeliling pintu raksasa dipenuhi patung, selapis demi selapis, patung batu itu semakin ke arah dalam semakin mengecil. Ukiran di atas pintu juga sangat bagus tak tertandingi, kebanyakan melukiskan para tokoh di dalam Alkitab.
Di tengah pintu terukir adegan “Persidangan terakhir”. Di sisi kiri dan kanan terdapat pintu besar lainnya, pintu pada sebelah kiri adalah kisah kehidupan Bunda Maria, pada sisi kanan adalah kisah St. Ana ibunda Bunda Maria, setiap karya ukiran tersebut gradasinya jelas dan garapannya sangat halus.
Memasuki Notre Dame, pada sebelah kanan terletak berderet-deret podium lilin, puluhan cahaya lilin putih membuat suasana di dalam gedung terasa lembut dan damai. Di depan tempat duduk hadirin terdapat podium pidato, di belakang podium itu terletak 3 buah patung, patung kiri dan kanan adalah Raja Louis XIII dan XIV, sorot mata kedua orang tersebut terfokus ke patung Bunda yang meratapi anaknya, Yesus tergeletak di atas lutut sang ibunda, mimik sang Bunda Suci terlihat sangat nelangsa.
Jendela Mawar
Lantai kedua Notre Dame adalah Jendela Mawar (Jendela Catherine) yang terkenal, beraneka warna, tetapi bukan melulu dekornya. Kaca patri yang penuh keindahan dan keanggunan tersebut terukir satu per satu kisah dari Bibel. Pelayanan kerohanian pada zaman dulu meminjam gambargambar tersebut untuk dipergunakan sebagai syiar agama.
Notre Dame adalah sebuah bangunan batu, di dalam sejarah bangunan dunia, ia dinobatkan sebagai simfoni yang terbentuk oleh batu raksasa kelas satu. Meski ini adalah sebuah bangunan keagamaan, namun ia memancarkan kearifan rakyat Prancis, telah merefl eksikan pengejaran dan dambaan manusia akan kehidupan yang indah.
Notre Dame memadukan agama, kebudayaan dan seni bangunan pada satu obyek. Awalnya dibangun demi memperingati dewa utama orang Romawi yakni Jupiter, seiring dengan mengalirnya waktu, lambat laun ia memancarkan keharuman sejarah dan kebudayaan.
Di dalam 800 tahun eksistensi Notre Dame de Paris, dengan diam-diam ia memandang air sungai yang mengalir deras dan para umat yang berjibun, pernah mengalami berapa banyak sebagai saksi mata hidup tragedi kemanusiaan dan dramaturgi kebahagiaan manusia!
Kini, sungai Seine masih saja secara diam-diam bersandar dan memandangi-nya, seolah dengan kebijakan dan keagungannya yang kekal melanjutkan kata: abadi. (Zhi Zi/The Epoch Times/whs)


 http://erabaru.net/sejarah/56-sejarah/32117-notre-dame-paris-yang-agung